Mei 24, 2015

Santai

Dua hari yang lalu, aku dapat pertanyaan dari anonymous di ask.fm aku. Pertanyaannya simple banget, tapi berhasil bikin aku memutar otak buat menjawabnya. Berhasil bikin aku mikir keras hanya karena sebuah pertanyaan simple. Bukan pertanyaan sih, tapi lebih ke sebuah pendapat tentang aku


yasssh. itu dia pendapat seorang anonymous tentang diri saya. Dan sekarang, aku mau jawab pendapatnya.

Seneng banget alhamdulillah kalo aku keliatannya santai banget dalam menjalani hidup. Artinya, aku bisa menutupi segala kekacauan dalam hidup (apasih-_-). Aku jadi kayak luwes banget dalam menjalani hari-hari. Lebih bersyukur dalam segala hal yang dikasih sama Tuhan.

Tapi, kenyataannya nggak gitu.
Aku cenderung panik dan sangat gampang ngeluh. Kalau kamu orang yang dekat sama aku, pasti kamu bakalan nggak setuju dengan pendapat anonymous ini. Yap, aku sering banget nyampein keluh kesahku tentang gundah gulana hidup ini ke orang-orang terdekatku. Terutama mas T.
Hampir setiap hari aku ngeluh, marah-marah, panik, dan segala macam aku curahin ke mas T. Kalau ada yang bilang hidupku santai banget, sebenernya hidup si mas T inilah yang jauh lebih santai. Percayalah, aku hampir nggak pernah denger dia ngeluh tentang kehidupannya. Beda banget sama aku yang gampang ngeluh. Aku juga gampang panik. Setiap ada sesuatu yang kuhadapin nggak sesuai sama ekspetasiku, aku bakal panik.  Dan aku cenderung menutupi usaha. Maksudnya, aku cenderung nggak memperlihatkan bagaimana aku meraihnya. Kadang kalo aku udah capek banget, ya aku flat aja dan jadi males buat meraih. Itulah yang bikin aku keliatan santai.

Jujur, aku pengen banget bisa jadi orang yang bersyukur dalam hidup. Jadi, aku bahagia banget bisa dapat pendapat dari anonymous ini. Aku senang kalo aku terlihat santai, karena beberapa orang santai adalah orang yang mensyukuri apa yang ada.

Dan,
tidak semua orang santai itu tidak berusaha. Beberapa orang santai itu hanya sebuah topeng untuk menutupi kelelahannya dalam meraih sesuatu. Jadi, ubah mindset kalian semua tentang orang santai adalah orang yang kurang mensyukuri hidup. Tidak begitu. Setiap orang punya titik lelah, dan titik lelahku adalah "flat" itu tadi. Itulah yang bikin keliatan santai.

Jadi, aku mengucapkan terimakasih banyak sudah berpendapat yang bikin aku mikir banget. Tapi, alhamdulillah aku seneng banget bacanya walaupun pasti menurut orang-orang yang deket sama aku (bahkan diriku sendiri) nggak setuju dengan argumen ini. Bisa dibilang, melenceng dari realita tapi membuat aku bahagia

April 07, 2015

Mau Cerita

Sama seperti judulnya, saya mau cerita.

Sebenernya banyak banget yang pengen aku ceritain, tapi baiklah mari tarik nafas sejenak, kemudian hembuskan, lalu mulai mengetik.

By the way, tidak terasa sudah 5 tahun saya menjadi blogger. 5 tahun lebih for sure, karena beberapa blog lain sudah saya buat sejak tahun 2008. Sempat suka gonta-ganti blog, sampai akhirnya cuma betah sama blog yang satu ini. Seharian ini sempet baca-baca entri pertama pada blog ini, hingga entri terakhir yang saya publikasikan. Entah, rasanya terharu baca kisah hidup sendiri. Baca cerita seorang Kirana kecil, yang bahkan waktu itu tidak pernah sama sekali bercerita tentang cinta, tiba-tiba bercerita tentang cinta, lalu datang dengan kisah patah hati, dan kembali dengan cerita jatuh cinta dengan lelaki yang baru ditemuinya. That's life. Semuanya terasa menyebalkan dan membosankan selama menjalankan, tapi ketika kamu mencoba mengingatnya kembali, kamu bakal sadar bahwa hidup tidak se-membosankan yang kamu pikirkan. Semua cerita terangkai dengan begitu sempurna, sampai bisa bikin kamu senyum sendiri kalo ngingetnya. Sekarang, Kirana sudah bisa dibilang bukan Kirana kecil lagi karena She's officialy 17 years old, punya KTP, punya SIM A, SIM C! Wohooooow

Kehidupanku terasa sangat membaik di tahun 2015 ini. Tahun ini sengaja nggak nulis resolusi, karena resolusi biasanya cuma sekedar resolusi. Yang terpenting adalah, apa yang kamu inginkan, lakukan hari ini juga, saat ini juga.

Berbicara tentang keinginan, pernah nggak sih ngerasa apa yang kamu inginkan itu tidak sesuai dengan kemampuanmu? Aku sedang merasakan itu.
Aku lagi pengen banget have a good score on Math, Kimia, Biologi, Fisika yang yeah-for-sure itu adalah pelajaran yang harus aku dalami dalam jurusanku di SMA ini. Aku cuma berharap, 3 tahun aku sekolah di SMA nanti, aku nggak mau ada kesedihan karena salah ambil jurusan. Tapi, baru tahun ke 2 aja kok udah ngerasa sedih ya? Bukan, bukan karena aku ngerasa passion ku ada di IPS atau Bahasa. Tapi sedih, kenapa aku nggak punya passion di jurusan yang bener-bener aku (dan orangtuaku) inginkan.

Berbagi cerita sedikit,
Aku emang kelihatan males banget orangnya. Siapapun yang melihat aku, aku kelihatan santai-santai aja, bisa dibilang ngeremehin pelajaran, nggak peduli nilai, bahkan ada yang bilang "dateng ke sekolah cuma buat pacaran". Oke, yang terakhir itu nggak bener. Di balik sosok aku yang terekam pada bayangan mata kalian, aku tipe orang yang bener-bener kerja keras, tapi nggak pernah menghasilkan apa apa. Sedih nggak sih?
Setiap di rumah, aku selalu berusaha memahami pelajaran yang aku nggak ngerti, Berusaha buat ngerjain tugas-tugas yang ada, tapi ntah kenapa selalu ada kendalanya. Aku bener-bener nggak punya bakat di IPA. Bahkan, pernah belajar semalaman suntuk sampai nggak tidur cuma buat Kimia, tapi hasilnya bikin aku pengen nangis.

Mungkin karena terlalu buntu dan suntuk dengan passion yang nggak jalan sama sekali pada jurusan, aku sendiri masih tidak punya pandangan buat kedepannya. Bakal kuliah dimana, masuk jurusan apa, dan nanti akan jadi apa. Di satu sisi, aku nggakmau pendidikanku masuk jurusan science di SMA ini nggak terpakai sama sekali, tapi di sisi lain, aku nggak punya bakat dalam jurusan yang sedang aku tekuni ini. Ngerasa sedih, ngerasa terperangkap banget, ngerasa semua orang menilai aku ini bodoh.

Sedih.
Sedih.
Sedih banget rasanya.



Januari 11, 2015

Jatuh Cinta

Banyak yang berubah.
Banyak sekali.

Yang paling menonjol, ya pergantian tahun. 2014 panjang banget kalo harus diceritain semuanya. Tahun 2014 kemarin, aku jatuh cinta lagi setelah 3 tahun terakhir nggak pernah ngerasain. Setelah 3 tahun stuck di orang yang sama, 2014 bikin semuanya beda. Aku-tau-rasanya-jatuh-cinta.

Se bahagia itu. Iya. Bahagia banget. Ini bulan ke 9 aku bareng T. Dan kami masih merasakan hal yang sama sepeti awal bersama. Masih sama seperti dia nunggu aku habis DBL, kejebak hujan, pulang hujan-hujanan. Masih sama seperti dia yang selalu menopang dagunya di mejaku sambil menghayati musiknya. Masih sama seperti dia yang selalu senyum setiap tangannya aku jadikan tempat mengekspresikan kebosananku dengan spidol. Masih sama seperti dia yang mau bawa mukenahku setiap habis sholat dzuhur karena aku terlalu malas untuk membawanya. Masih sama seperti dia yang nggak bolehin aku ngiket tali sepatuku sendiri. Masih sama seperti dia yang datang ke rumah buat minta maaf. Masih sama seperti dia yang mau nurutin permintaanku buat pergi kesana sini walaupun lagi sakit. Masih sama seperti dia yang selalu ngingetin kecerobohanku. Masih sama seperti dia yang selalu sama aku setiap aku pergi. Masih sama seperti dia yang jadi teman curhatku. Semuanya masih sama. Semuanya masih terasa seperti dulu. Masih sama seperti aku jatuh cinta. Tidak ada yang berubah. Selalu ada hal baru yang buat aku semakin merasa masih jatuh cinta. 

Terdengar berlebihan, tapi bukan jatuh cinta namanya kalo bukan berlebihan. Apa yang aku tulis disini cuma mewakilkan 30% dari keseluruhan. Dia, emang nggak pernah berhenti bikin aku ngerasa jatuh cinta. Rasanya masih kayak PDKT. Berjuang karena ada yang ingin diraih. 

Sepertinya masa SMA ini nggak akan jadi cerita yang biasa aja. Teman-teman yang luar biasa, bahkan, kamu yang luar biasa, T. Ntah kita ini apa. Kita ini laki laki dan perempuan yang sedang PDKT, yang sedang pacaran, sedang bersahabat, dan terkadang bermusuhan juga. Susah untuk jelasin kita. 

Intinya, kita bahagia. 
Seperti kata pepatah "semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya"
Namanya juga pacaran. Akan selalu ada fitnah Fitnah yang bener-bener kejam, ntah siapa yang membuatnya pertama kali. Semuanya senyumin aja, Allah tau mana yang bener dan mana yang enggak. Kembali ke pribadi masing-masing untuk mau termakan kabar, atau menanyakan sesuatu agar lebih benar :)

Apapun ujiannya, kita masih bisa kan jatuh cinta, T?



Bonus quote alay, tapi beneran loh mblo