Februari 11, 2016

Hampir Dua Dekade

Kemarin, adalah hari dimana aku merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena usiaku yang menginjak angka 18. Tepat dua tahun setelah dua windu, dan dua tahun sebelum dua dekade. Nggak terasa aku udah se-tua ini. Udah semakin dekat dengan tanggung jawabku untuk bisa membuat bahagia orang-orang sekitar.

Aku bersyukur Tuhan masih ngasih aku kesempatan buat perbaikin masa lalu dan jalan untuk membuat orangtuaku bahagia. Aku bersyukur karena aku merayakannya bersama orang-orang yang istimewa. Aku bersyukur, karena hari ini membuat aku merasa bahwa aku tidak kesepian, banyak orang yang peduli, namun aku sudah lama tidak menyadarinya.

Aku bersyukur, karena selama dua tahun terakhir ini, aku didampingi oleh seorang lelaki yang nggak-pernah ada lelahnya menuruti segala kemauanku. Dia bikin aku sadar, bahwa memang tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Hari ini, dia datang dengan segala usahanya setelah semalam rela hujan-hujanan untuk sekedar beli cake buat aku. Pulang sekolah, aku dan dia makan mie berdua di kantin sekolah terus ngobrol tentang banyak hal. Tanpa disangka, obrolan ini jadi sebuah perdebatan buat kita. Setelah melalu perdebatan panjang dan kasar, aku jadi sadar...

Dia rela berubah buat aku.

Setiap orang memiliki masa lalu. Begitupun dia dan segala kenangan buruk yang pernah dia lakukan saat dia masih sama aku. Tapi aku sadar, Tuhan yang Sempurna aja bisa memaafkan, kenapa aku-yang-cuma-hamba-Nya begitu sombong nggak mau maafin? Itu yang jadi alasan utama setiap terlontar pertanyaan, kenapa aku masih ingin selalu sama dia.

Dibalik kata-kataku yang pedas, sifatku yang keras, dan segala sisi negatif yang aku keluarkan saat sama dia, dia nggak pernah berhenti buat selalu peduli dan sayang sama aku. Dia menunjukkan respon positif dari sifat negatifku. Dia membuat semuanya menjadi alasan kenapa ia berubah menjadi sosok yang jauh lebih baik dari pertama aku kenal dia.

Dia susah untuk dideskripsikan. Dia childish, tapi dia dewasa. Dia pelunak pada sifatku yang keras. Dia yang selalu nyediain pundaknya saat aku nangis. Dia yang nggak pernah alpa ketika aku susah maupun seneng. Dia selalu ada di dekatku, kapanpun itu.

Aku suka cara dia memperhatikan aku. Aku suka cara dia menatap aku dengan matanya yang berbinar-binar, dan bulu matanya yang lentik. Aku suka caranya mengambil hati orangtuaku. Aku suka segala usahanya ketika aku lagi dalam emosi yang menggebu-gebu.

Ko, aku suka segala hal tentang kamu..

Meskipun banyak hal yang bikin kita sempat retak, kamu akan selalu menjadi perekat untuk keretakan itu sendiri. Kita selalu kembali, karena kita adalah rumah bagi kita sendiri. Banyak orang yang mempengaruhi, mempertanyakan, tapi bagiku tidak ada yg perlu dipengaruhi dan dipertanyakan. Aku-dan-kamu, itu pasti.

Terimakasih Ko, sudah menjadi sosok yang selalu ada saat aku susah. Terimakasih sudah nurutin segala kerewelanku. Terimakasih sudah memaklumi sifat-sifat burukku. Terimakasih sudah membantuku banyak hal. Terimakasih atas segala usahamu untuk meredakan emosiku. Terimakasih atas segala rencana yang kamu buat untuk kebaikan kita.

Aku tidak pernah ada keinginan untuk benar-benar kehilangan
Aku ingin, kamu akan tetap menjadi lelaki yang aku tuliskan saat umurku menginjak 18 tahun ini..

Terimakasih, sudah menjadi sosok yang jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya...